Rangkaian Wirid Asmaul Husna Yang Bisa Dipraktekkan

amalan wirid asmaul husna

Para ahli hikmah banyak yang mengijazahkan petikan asmaul husna yang dirangkai menurut kebutuhan orang yang meminta ijazah. Dan Anda pun bisa merangkai sendiri berdasar kepada arti atau makna asmaul husna yang hendak anda pilih sebagai amalan rutin.

Umpamanya Anda sedang behajat untuk memiliki kewibawaan. Maka pilihlah asmaul husna yang mengandung arti seperti: Ya Waliyu, Ya Dzal Jalaali wal ikram, ya mutakabbiru, Ya Qohhaaru dan sebagainya.

Sedangkan yang berhajat untuk bangkitnya dan kharisma, bisa memilih asmaul husna seperti: Ya Rohmaanu, Ya Rohiimu, Ya Lathifu, Ya Wadudu dan asmaul husna yang memiliki arti sejenis.

Begitu halnya untuk hajat-hajat yang lain. Anda bisa memiih sesuai dengan pilihan hati (yang mantap)

tasbih-karomah-akbar

Perhitungan Ganjil Dalam Wirid

Umumnya, dalam memberikan petunjuk kepada orang yang berguru para ahli hikmah lebih suka menentukan jumlah wirid dengan bilangan ganjil.

Seperti harus dibaca tiga kali, tujuh kali, dua puluh satu kali, empat puluh satu kali dan sebagainya. Mereka yang mengikuti metode tersebut adalah berdasar pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa yang menghafalkannya, ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha ganjil dan cinta sekali pada hal yang ganjil.

Oleh sebab itulah, Asmaul husna yang diyakini mampu membangkitkan tenaga batin (tenaga dalam) adalah Asmaul husna yang disebut asma’ sembilan (karena berjumlah sembilan).

Selain berjumlah ganjil, angka sembilan dianggap angka yang dianggap angka unik (keramat). Pertimbangannya, jumlah wali di tanah jawa berjumlah sembilan. Kemudian, angka sembilan adalah angka satuan yangpaling besar. Keunikannya lagi, angka sembilan jika dikalikan tetap saja berjumah sembilan (jika dimistik).

Umpamanya, 9×1=9

9×2= 18 (delapan belas berarti 1+8=9)

9×3= 27 (dua puluh tujuh berarti 2+7=9)

9×4= 36 (tiga puluh enam berarti 3+6=9)

9×5= 45 (empat puluh lima berarti 4+5=9)

dan seterusnya

Sementara mereka yang ketika dzikir/wirid tidak mau terpancang dengan hitungan, pertimbangannya adalah justru dengan menghitung konsentrasi menjadi terbagi. Yaitu, konsentrasi dzikir dan konsentrasi menghitung. Keduanya mempunyai dasar. Dan Anda silahkan memilih mana yang mantap dihati.

KONSULTASI SILAHKAN HUBUNGI KAMI